https://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/issue/feedJURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora2026-02-09T13:50:07+08:00Admin Jurnal Ilmiah Falsafahjurnal.falsafah@iaisambas.ac.idOpen Journal Systems<p><strong>Jurnal Ilmiah Falsafah</strong> is a peer review journal. <strong>Jurnal Ilmiah Falsafah</strong> is published by Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas. <strong>Jurnal Ilmiah Falsafah</strong> is an academic journal that emphasizes actual issues relating to Philosophy, Theology, and Humanities. <strong>Jurnal Ilmiah Falsafah</strong> focuses on several topics including 1) Religion and Philosophy, 2) Philosophy of the Quran, 3) Theology and Aqidah, 4) Interpretation of the Quran, 5) Interpretation Methodology, 6) Phenomenology of Religion, 7) Comparative Religion 8) Living Quran dan Hadits, 9) History of Religion, and 10) History of Interpretation. <strong>Jurnal Ilmiah Falsafah</strong> publishes issues twice a year in January and July. The language of manuscript accepted is either in Bahasa Indonesia or English. The manuscript submitted to <strong>Jurnal Ilmiah Falsafah</strong> must be original both library and field reserach. <strong>Jurnal Ilmiah Falsafah </strong>applies turnitin for plagiarism screening. The authors should comply the submitted manuscripts with the article template of <strong>Jurnal Ilmiah Falsafah</strong>.</p>https://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4628Epistemologi dan Integrasi : Interpedensi Metakosmos, Makrokosmos, Mikrokosmos, Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam2026-01-14T15:51:58+08:00Nurul Habibah Arfizeah22590124660@students.uin-suska.ac.idAmril Mamrilm@uin-suska.ac.idEliza Putri Ardiah22590124645@students.uin-suska.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menjelaskan epistemologi serta interpedensi antara makrokosmos, mikrokosmos, dan metakosmos, serta bagaimana ketiga dimensi kosmik tersebut diintegrasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini enggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menelaah konsep-konsep kosmologi Islam yang menempatkan Tuhan sebagai metakosmos, alam semesta sebagai makrokosmos, dan manusia sebagai mikrokosmos yang saling terkait epistemologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa epistemologi Islam tidak hanya bersumber dari akal dan pengalaman empiris, tetapi juga dari wahyu sebagai fondasi utama pengetahuan. Integrasi ketiga realitas kosmik dalam pembelajaran PAI menghasilkan pendekatan holistik yang menghubungkan kecerdasan qauliyah (wahyu), kauniyah (alam), dan insaniyah (potensi manusia). Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk memahami relasi Tuhan–alam–manusia secara komprehensif, sehingga pembelajaran PAI tidak hanya membentuk aspek kognitif, tetapi juga spiritual, moral, dan ekologis. Penelitian ini menegaskan bahwa interpedensi trilogi kosmos menjadi dasar penting dalam membangun paradigma pendidikan Islam yang utuh dan transendental.</p>2026-01-14T15:51:58+08:00Copyright (c) 2026 Nurul Habibah Arfizeah, Amril M; Eliza Putri Ardiahhttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4642Ingkar Sunah Modern (Telaah Kritis atas Pemikiran Rashad Khalifah)2026-01-14T16:27:44+08:00Hafizah22590124201@students.uin-suska.ac.idAlfiahalfiah@uin-suska.ac.idNurhafiza22590123525@students.uin-suska.ac.idAnggi Fitriani 22590124569@students.uin-suska.ac.idEti Sapitri22590122957@students.uin-suska.ac.idAbdul Haziz Daulay22590112588@students.uin-suska.ac.id<p>Fenomena ingkar Sunnah merupakan salah satu wacana krusial dalam diskursus pemikiran Islam, khususnya terkait otoritas keagamaan dan epistemologi sumber ajaran Islam. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis konsep ingkar Sunnah, sejarah kemunculannya, ragam argumen yang dikemukakan oleh para pengingkarnya, serta kelemahan metodologis dari argumen tersebut, dengan bertumpu pada kajian tekstual kritis terhadap karya Syuhudi Ismail. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang cenderung menempatkan Syuhudi Ismail sebagai tokoh pemikiran, penelitian ini memosisikan karyanya sebagai sumber primer untuk memetakan konstruksi wacana pengingkaran Sunnah dan respons intelektual para pembelanya. Hasil kajian menunjukkan bahwa ingkar Sunnah tidak hanya muncul sebagai persoalan teologis, tetapi juga sebagai problem epistemologis yang berakar pada kesalahan memahami relasi antara Al-Qur’an, Sunnah, dan otoritas kenabian. Argumen yang diajukan oleh para pengingkar Sunnah, baik yang bersifat naqli maupun non-naqli, terbukti mengandung kelemahan konseptual, historis, dan metodologis. Sebaliknya, upaya pelestarian Sunnah oleh para pembelanya dilakukan melalui pengembangan metodologi kritik sanad dan matan, pembentukan disiplin ilmu hadis, serta peneguhan kedudukan Sunnah sebagai sumber ajaran Islam yang integral. Dengan demikian, kajian ini menegaskan bahwa Sunnah tidak dapat dipisahkan dari struktur ajaran Islam tanpa menimbulkan reduksi makna dan praktik keagamaan.</p>2026-01-14T16:24:41+08:00Copyright (c) 2026 Hafizah, Alfiah, Nurhafiza; Anggi Fitriani , Eti Sapitri; Abdul Haziz Daulayhttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4636Mental Health in the Perspective of Hadith2026-01-14T16:57:44+08:00Eliza Putri Ardiah22590124645@students.uin-suska.ac.idAlfiahalfiah@uin-suska.ac.idNurul Habibah Arfizeah22590124660@students.uin-suska.ac.id<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia, yang mencakup tidak hanya kesejahteraan fisik dan psikologis tetapi juga kesejahteraan spiritual. Fenomena globalisasi dan kemajuan teknologi telah memberikan dampak signifikan pada kehidupan manusia, termasuk peningkatan tekanan psikologis, stres, dan gangguan emosional. Dalam konteks ini, Islam, melalui Al-Qur'an dan Hadits, memberikan panduan komprehensif untuk menjaga kesehatan mental, menekankan ketenangan, pengendalian emosi, dan kedamaian pikiran. Studi ini bertujuan untuk meneliti konsep kesehatan mental dari perspektif hadits Nabi Muhammad (saw). Metode yang digunakan adalah riset pustaka, dengan menelaah buku, jurnal, dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadits Nabi menekankan pentingnya menjaga hati, kesabaran, zikir (mengingat Allah), optimisme, dan husnudzon (pikiran yang memaafkan) sebagai dasar kesehatan mental. Hadits juga menawarkan solusi praktis untuk menghadapi tekanan hidup melalui ibadah, pengendalian emosi, dan penguatan hubungan sosial. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kesehatan mental, menurut hadits, bukan hanya ketiadaan gangguan mental tetapi mencakup keseimbangan spiritual, emosional, dan sosial yang membimbing manusia menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.</span></span></p> <p><strong><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Kata kunci</span></span></strong><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> : Konsep, Kesehatan Mental, Perspektif Hadits</span></span></p>2026-01-14T16:57:14+08:00Copyright (c) 2026 Eliza Putri Ardiah; Alfiah, Nurul Habibah Arfizeahhttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4619Filsafat Ekonomi Islam dalam Ruang Mikro (Kajian Mendalam atas Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi Koperasi Syariah Qurrata A’yun)2026-01-24T07:47:22+08:00Witri Witriwitri249@gmail.comAhmad Lutfiahmad.lutfi659@gmail.comSyukri Iskasyukri.iska@uinmybatusangkar.ac.id<p>This study aims to analyze the application of Islamic economic philosophy covering the dimensions of epistemology, ontology, and axiology within Koperasi Syariah Qurrata A’yun. Employing a qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews, direct observations, and a review of the cooperative’s formal documents. The findings indicate that, in terms of epistemology, the cooperative refers to DSN-MUI fatwas and basic principles of Islamic jurisprudence; however, the transmission of Sharia knowledge remains unstructured, resulting in low member literacy and suboptimal Sharia oversight. From an ontological perspective, the cooperative conceptualizes wealth as a trust (amanah) and fosters strong familial relations, evident in its transparent margin-setting and humanistic approach to resolving financing problems. Nonetheless, financing practices are still influenced by urgent consumptive needs and limited administrative capacity. In the axiological dimension, values of justice, deliberation, public benefit (maslahah), and anti-exploitation are reflected through the Annual Member Meeting (RAT), fair pricing mechanisms, ethical service delivery, and social support programs, although challenges such as moral hazard and limited human resources persist. Overall, the cooperative embodies the core values of Islamic economics, yet requires strengthened literacy systems, Sharia-based standard operating procedures, and improved governance to ensure a more consistent, profound, and sustainable implementation of Islamic economic philosophy.</p>2026-01-24T07:45:19+08:00Copyright (c) 2026 Witri Witri, Ahmad Lutfi, Syukri Iskahttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4670Halal sebagai Label atau Nilai (Telaah Filosofis Maqāṣid al-Syarī‘ah dalam Pengembangan Sistem Ekonomi Islam)2026-01-24T08:16:09+08:00Miftahul FikriMiftahulfikri993@gmail.comAhmad Lutfiahmad.lutfi659@gmail.comSyukri Iskasyukri.iska@uinmybatusangkar.ac.id<p>This article examines the phenomenon of the reduction of maqāṣid al-syarī‘ah in contemporary halal practices, where halal is often understood as a legal-formal label rather than a normative value serving as the systemic foundation of Islamic economics. Using a Systematic Literature Review (SLR) of 20 primary articles and 10 additional references, this study highlights the tension between the normative ideals of maqāṣid and practical implementation in halal industries, SMEs, and Islamic banking. Findings reveal that halal certification is often treated as an administrative tool or marketing strategy, while principles of welfare, quality, sustainability, and justice are insufficiently realized. The study emphasizes the urgency of restoring maqāṣid al-syarī‘ah as a comprehensive normative foundation, ensuring halal functions as a guiding value within the Islamic economic system. This research contributes philosophically and practically, providing guidance for the development of an integrative, holistic, and sustainable Islamic economy.</p>2026-01-24T08:15:20+08:00Copyright (c) 2026 Miftahul Fikri, Ahmad Lutfi, Syukri Iskahttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4685Epistemologi Debat Tahafut: Rekonstruksi Argumen Ibnu Rusyd atas Kesalahan Logis Al-Ghazali2026-01-27T06:52:49+08:00Yonaldo Efendiyonaldoefendi@gmail.comGazali Gazaligazali@uinbukittinggi.ac.id<p>Penelitian ini mengkaji struktur epistemologis dalam perdebatan klasik antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd sebagaimana tercermin dalam <em>Tahafut al-Falasifah</em> dan <em>Tahafut at-Tahafut</em>. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis bagaimana Ibnu Rusyd merekonstruksi argumen filosofisnya dalam menanggapi kesalahan logis dan metodologis yang ia identifikasi dalam kritik Al-Ghazali terhadap filsafat Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah teks primer dari kedua karya tersebut serta literatur akademik terbaru sebagai sumber sekunder. Analisis dilakukan melalui pendekatan epistemologis dan logis yang berfokus pada tiga isu sentral dalam perdebatan, yaitu kekekalan alam, pengetahuan Tuhan terhadap hal-hal partikular, dan kebangkitan jasmani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jawaban Ibnu Rusyd disusun melalui kerangka demonstratif (<em>burhān</em>) untuk meluruskan <em>category mistake</em>, <em>equivocation</em>, serta penyempitan makna doktrin filosofis yang dilakukan Al-Ghazali. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi Ibnu Rusyd tidak hanya mempertahankan legitimasi rasionalitas dalam tradisi Islam, tetapi juga membangun sintesis yang harmonis antara akal dan wahyu. Temuan ini memperlihatkan relevansi kerangka epistemologis Ibnu Rusyd bagi perkembangan diskursus rasionalitas Islam kontemporer.</p>2026-01-27T06:52:16+08:00Copyright (c) 2026 Yonaldo Efendi, Gazali Gazalihttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4712Islamic Axiology (The Function And Purpose Of Knowledge, As Well As The Interweaving Of Values Metacosm, Macrocosm And Inner Microcosm Islamic Religious Education)2026-01-30T01:30:53+08:00Ririn Ristianiririn220419@gmail.comAmril Mamrilm@uin-suska.ac.id<p>This research aims to examine Islamic axiology as a value foundation in understanding the functions and goals of science as well as the interweaving of metacosm, macrocosm, and microcosm values in Islamic religious education. Islamic axiology views knowledge not only as a rational means, but also as a means of worship, morality, and spirituality directed to achieve the pleasure of Allah SWT. This research uses <em>the library research </em> method with a descriptive qualitative approach, namely examining various literature relevant to the philosophy of science, Islamic education, and Islamic cosmology. The results of the study show that in the concept of Islamic axiology, science has a function as a means of knowing Allah (ma'rifatullah), a guide to life and worship, a tool for building civilization based on divine values, and a link between reason, revelation, and charity. The main purpose of knowledge is to get closer to Allah, realize the benefits of the ummah, uphold social justice, and form noble morals. In addition, the intertwining of the values of the metacosm (divinity), macrocosm (universe), and microcosm (human) is the basis for holistic Islamic religious education. Islamic education not only transfers knowledge, but also instills the values of monotheism, morals, and human responsibility to realize knowledgeable, faithful, and noble human beings. Thus, Islamic axiology places science as a means to a balance between spiritual and material aspects, reason and revelation, as well as man and his God, so that science functions as a path to true happiness and universal benefit (rahmatan lil 'alamin).</p>2026-01-30T01:21:14+08:00Copyright (c) 2026 Ririn Ristiani Ririnhttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4723Penggunaan Kaedah ‘Am dan Takhsis dalam Memahami surah Al-‘Asr2026-01-30T03:44:16+08:00Eti Sapitri22590122957@students.uin-suska.ac.idKadar M. Yusufkadarmyusuf@gmail.comAfni Ratna Dewi22590124251@students.uin-suska.ac.idAnggi Fitriani22590124659@students.uin-suska.ac.idEliza Putri Ardiah22590124645@students.uin-suska.ac.id<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara komprehensif bentuk-bentuk lafaz yang termasuk dalam kaidah 'am dan takhsis serta menelaah penerapannya dalam Surah Al-'Asr ayat 1–3. Kajian ini dilakukan untuk memberikan penjelasan yang lebih tepat mengenai bagaimana kedua kaidah tersebut bekerja dalam konstruksi makna ayat, sehingga pemaknaan Al-Qur'an dapat dilakukan secara lebih akurat dan selaras dengan konteks kebahasaan yang terkandung. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (penelitian perpustakaan), yaitu pengumpulan dan analisis data melalui literatur yang relevan tanpa melibatkan data lapangan. Proses pengumpulan data dilakukan dengan meninjau berbagai sumber berupa kitab metodologi tafsir, literatur ushul fikih, buku kaidah kebahasaan, jurnal ilmiah, serta e-book yang berkaitan dengan konsep 'am dan takhsis. Data dianalisis secara deskriptif dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk lafaz 'am, jenis-jenis takhsis, dan pola penerapannya dalam Surah Al-'Asr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lafaz </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">al-insan</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> pada ayat kedua merupakan bentuk lafaz 'am yang mencakup seluruh manusia, namun cakupan tersebut dibatasi (ditakhshis) pada ayat ketiga melalui empat kriteria yang diturunkan: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan kaidah 'am dan takhsis merupakan bagian penting dalam menjaga ketepatan pemaknaan ayat Al-Qur'an. Penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian ini dengan menelaah surah lain atau membandingkan pendekatan kaidah 'am dan takhsis dalam tafsir tematik kontemporer.</span></span></p>2026-01-30T03:41:48+08:00Copyright (c) 2026 Eti, Kadar M. Yusuf; Afni Ratna Dewi, Anggi Fitriani, Eliza Putri Ardiahhttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4672Comparison of Idealism, Realism, Pragmatism, and Positivism in the Development of Science2026-02-02T01:38:21+08:00Vina Novita22590124117@students.uin-suska.ac.idAmril Mamrilm@uin-suska.ac.id<p>This study aims to identify the role and contribution of idealism, realism, pragmatism, and positivism in the development of science. This study uses a qualitative descriptive-analytical method with a library research approach. The results show that these four schools of philosophy have different approaches to understanding reality and acquiring knowledge. Idealism emphasizes the importance of theory and concepts, realism emphasizes objective reality, pragmatism emphasizes practical results and benefits, while positivism emphasizes empirical data and measurable facts. This study concludes that these four schools of philosophy can help develop better and more effective science with a comprehensive and evidence-based approach.</p>2026-02-02T01:37:21+08:00Copyright (c) 2026 vina_novita, Amril Mhttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4897Integrasi Artificial Intelligence di Pendidikan Tinggi (Analisis Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis Berbasis Filsafat Ilmu)2026-02-06T07:51:06+08:00Ridho Taufiq Subagioridho.taufiq@cic.ac.idRifqi Fahrudinrifqi.fahrudin@cic.ac.idPetrus Sokibipetrus.sokibi@cic.ac.idAgus Nursikuwagusagusnursikuwagus@email.unikom.ac.idUsep Mohamad Ishaqusep.mohamad.ishaq@email.unikom.ac.idAndrias Darmayadiandrias.darmayadi@email.unikom.ac.id<p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>The rapid acceleration of Artificial Intelligence adoption in higher education has created paradigm shifts in learning and administration. While beneficial, this integration triggers new ethical complexities, covering algorithmic bias, data privacy risks, threats to academic integrity, and human role erosion. This study aims to analyze the urgency of the philosophy of science as a primary moral compass in navigating this digital transformation era. Using a qualitative library research method, the analysis is conducted through three main dimensions: ontology, epistemology, and axiology. Results confirm the vital role of the philosophy of science: ontology positions AI merely as a tool; epistemology provides knowledge validation frameworks; and axiology establishes ethical boundaries to prevent educational dehumanization. Conclusively, technology integration practices in higher education must absolutely rely on the solid foundations of the philosophy of science. This step is crucial to ensure digital transformation remains fully oriented toward human dignity principles and human-centricity amidst progress.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: </em><em>Artificial Intelligence, Higher Education, Philosophy of Science</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Peningkatan pesat adopsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) di lingkungan ekosistem perguruan tinggi telah menciptakan perubahan paradigma mendasar dalam proses pembelajaran dan administrasi kampus. Meskipun bermanfaat, integrasi ini memicu kompleksitas etika baru, meliputi potensi bias algoritma, risiko privasi data, hingga ancaman nyata terhadap integritas akademik serta pengikisan peran manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi filsafat ilmu sebagai kompas moral utama dalam menavigasi era transformasi digital tersebut. Menggunakan pendekatan metode kualitatif berbasis studi pustaka, analisis dilakukan melalui tiga dimensi utama: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Hasilnya menegaskan peran vital filsafat ilmu: ontologi menempatkan AI sebagai objek alat bantu semata; epistemologi menyediakan kerangka validasi pengetahuan; dan aksiologi menetapkan pagar etis sebagai upaya mencegah dehumanisasi pendidikan. Kesimpulannya, praktik integrasi teknologi dalam pendidikan tinggi mutlak harus berlandaskan fundamen filsafat ilmu yang kokoh. Langkah ini sangat krusial untuk memastikan bahwa transformasi digital tetap selalu berorientasi penuh pada prinsip pemuliaan martabat manusia (<em>human-centric</em>) di tengah arus kemajuan zaman.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Kecerdasan Buatan; Pendidikan Tinggi; Filsafat Ilmu</p>2026-02-06T07:30:57+08:00Copyright (c) 2026 Ridho Taufiq Subagio, Rifqi Fahrudin, Petrus Sokibi, Agus Nursikuwagus, Usep Mohamad Ishaq, Andrias Darmayadihttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4735INTEGRASI AKAL, WAHYU, DAN PENGEMBANGAN MORAL DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM2026-02-08T00:08:47+08:00Adila Umniati Aufa25204021022@student.uin-suka.ac.id Muhammad Musyafa’25204021026@student.uin-suka.ac.idAndini25204021025@student.uin-suka.ac.id<p>Pendidikan Islam modern menghadapi tantangan serius akibat dikotomi antara akal dan wahyu dalam proses pendidikan, yang berdampak pada lemahnya pembentukan moral dan spiritual peserta didik. Kondisi ini menuntut adanya pendekatan pendidikan yang mampu menyinergikan rasionalitas dan nilai-nilai ilahiah secara seimbang. Namun, kajian yang secara khusus mengintegrasikan akal, wahyu, dan pengembangan moral sebagai satu kerangka epistemologis dalam pendidikan Islam modern masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep integrasi akal, wahyu, dan pengembangan moral sebagai fondasi pendidikan Islam yang holistik dan relevan dengan tantangan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan teknik analisis isi terhadap karya-karya filsafat pendidikan Islam dan literatur ilmiah terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa akal berfungsi mengembangkan kemampuan berpikir kritis, wahyu berperan sebagai sumber nilai normatif dan spiritual, sedangkan moral menjadi orientasi etis yang mengarahkan perilaku manusia. Integrasi ketiganya membentuk paradigma pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter, kesadaran spiritual, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, pendidikan Islam integratif mampu melahirkan insan yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.</p>2026-02-08T00:06:42+08:00Copyright (c) 2026 Adila Umniati Aufa, Muhammad Musyafa’, Andinihttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4702Limit Rasionalitas (Paradigma Kritis Al-Ghazali terhadap Filsafat dalam Maqashid al-Falasifah dan Tahafut al-Falasifah)2026-02-08T00:27:23+08:00Ibrahim Hasan Rayhasanray130@gmail.comGazali Gazaligazali@uinbukittinggi.ac.id<p>Artikel ini membahas batas rasionalitas dalam paradigma kritis Imam Al-Ghazali terhadap filsafat, khususnya melalui dua karyanya, <em>Maqashid al-Falasifah</em> dan <em>Tahafut al-Falasifah</em>. Al-Ghazali menunjukkan bahwa akal manusia memiliki batas dalam memahami realitas metafisik dan ketuhanan, serta menegaskan bahwa wahyu lebih utama sebagai sumber kebenaran. Kebaruan artikel ini adalah penekanan pada pembacaan dialektis antara <em>Maqashid</em> dan <em>Tahafut</em>, yang menampilkan Al-Ghazali bukan hanya sebagai penolak filsafat, tetapi sebagai pembangun paradigma kritis yang menguji rasionalitas dari dalam filsafat itu sendiri. Rumusan masalahnya adalah bagaimana Al-Ghazali membangun kritik rasional terhadap filsafat lewat dua karyanya, serta sejauh mana kritik itu menunjukkan batas akal dalam memahami realitas ketuhanan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis tekstual-filosofis terhadap buku <em>Maqashid al-Falasifah</em> dan <em>Tahafut al-Falasifah</em>, serta metode komparatif untuk melihat perkembangan pemikiran Al-Ghazali. Sumber utama adalah teks cetakan Arab dari kedua karya tersebut. Kesimpulannya, limit rasionalitas menurut Al-Ghazali bukan berarti menolak akal, tetapi memperbaiki fungsi akal agar tetap dalam koridor keimanan dan metafisika profetik. Paradigma kritis Al-Ghazali menawarkan model epistemologi Islam yang menempatkan akal sebagai alat bantu yang harus diuji dan dibatasi oleh wahyu, sehingga tetap relevan dalam filsafat Islam masa kini.</p>2026-02-08T00:25:23+08:00Copyright (c) 2026 Ibrahim Hasan Ray, Gazali Gazalihttps://journal.iaisambas.ac.id/index.php/Falsafah/article/view/4956Fuji Arifzapni Filsafat Ilmu dan Integritas Akademik dalam Penulisan Karya Ilmiah 2026-02-09T13:50:07+08:00fujiarifzapni@gmail.comEfendiefendimag@uinib.ac.idSanra lobutayasr@gmail.comSamsul Mu'arifsamsulmuarif2516@gmail.com<p>Scientific writing is an academic activity grounded in the principles of the philosophy of science, particularly those related to the structure of knowledge, the process of attaining scientific truth, and the ethical responsibilities of researchers. In the context of modern academia, scientific works function not only as a medium of scholarly communication but also as essential instruments for advancing knowledge through verification and replication. However, many students and novice researchers still lack adequate understanding of the various types of scientific works, research ethics, and proper academic writing procedures, which may result in outputs that do not meet academic standards. This study employs a Literature Review method by analyzing relevant literature concerning the philosophy of science, ethical writing practices, and techniques for developing scientific papers. Data were analyzed through the stages of data collection, reduction, presentation, and verification. The findings indicate that scientific works exist in various forms, such as papers, journal articles, undergraduate theses, master’s theses, dissertations, and research reports—each with distinct structures and levels of complexity. In addition, academic ethical codes—such as scientific honesty, anti-plagiarism principles, the prohibition of data fabrication and falsification, as well as authorship ethics—form the foundation of scientific integrity. High-quality scientific writing requires a systematic process, including topic selection, literature review, methodological formulation, drafting, revision, and final editing. This article asserts that scientific writing is not merely a technical skill but an intellectual endeavor that demands critical, analytical, and ethical reasoning. Therefore, understanding the philosophy of science is crucial for producing scientific works that are valid, logical, and accountable.</p>2026-02-09T13:47:43+08:00Copyright (c) 2026 fuji, Efendi, Sanra , Samsul Mu'arif