MODEL LAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

  • Nuraini Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Muhammad Syafiuddin Sambas
Keywords: Model, Layanan Pendidikan, Anak Berkebutuhan Khusus

Abstract

Tulisan ini ingin menjelaskan model layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dengan menganalisis berbagai literatur yang sesuai dengan bahasan. Adapun Model layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ada tiga model pendidikan untuk menggabungkan anak berkebutuhan khusus dengan anak reguler dalam satu lingkungan belajar, yakni:  Mainstream, (segregasi) adalah sistem pendidikan yang menempatkan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah terpisah, dan menganut sistem klasifikasi, dan mengikuti kurikulum akademis yang berlaku sesuai dengan klasifikasi kelas. Integrasi, adalah menempatkan anak-anak berkebutuhan khusus dalam kelas anak-anak normal, dimana mereka mengikuti pelajaranpelajaran yang dapat mereka ikuti dari gurunya. Sedangkan untuk mata pelajaran akademis lainnya anak-anak berkebutuhan khusus itu memperoleh pengganti di kelas yang berbeda dan terpisah. Inklusi, adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

References

Ahmadi, Rulam, 2015. Pengantar Pendidikan, Yogyakarta.
Budiman, Agus, Efektifitas Pembelajaran PAI Pada Peserta Didik Berkebutuhan Khusus, Jurnal At-takdid, vol. II.No.I, 2016.
Darma, Indah Permata, Pelaksanaan Sekolah Inklusi di Indonesia, Jurnal Researt dan PKM, Vol. 2. No.2. Desember 2017.
Delphie, Bandi, 2006. Pembelajaran Anak Tunagrahita: Suatu Pengantar dalam Pendidikan Inklusi, Bandung: Refika Aditama.
------------------, 2009. Psikologi Perkembangan (Anak Berkebutuhan Khusus). Klaten: Intan Sejati.
Depdiknas, Pedoman Penilaian Pendidikan Khusus. Jakarta: Depdiknas Pusat
Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. 2006.
Desmita, 2016. Psikologi Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Dewi, Nurul Kusuma, Manfaat Program Pendidikan Inklusi untuk AUD, Jurnal Pendidikan Anak, Vol. 6. Edisi I, Juni 2017.
Direktorat pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pengembangan Kurikulum Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, DIRJENMENDIKDASMEN DEPDIKNAS, 2004.
Direktorat PLB. 2010. Mengelola kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah. Jakarta: Direktorat PLB.
Efendi, Mohammad, 2008, Pengantar Psikopedagogik, Jakarta: Bumi Aksara.
Geniofom, 2010, Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus, Yogyakarta: Galailmu. Gerungan, 2004. Psikologi Sosial, Bandung: Refika Aditama.
J.D, Smith, 2006. Inklusi: Sekolah Ramah untuk Semua, Terjemah Denis, Ny. Enrica, Bandung: Nuansa.
Kurniawan, Implementasi Kebijakan Sekolah Dasar Inklusi, Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam Vol. 03, Juli 2014.
Lestari, Fitria Dewi Fuji, Manajemen Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Pertama, Jurnal Pendidikan Khusus Universitas Negeri Surabaya, 2017.
Mareza, Lia, Pengajaran Kreativitas Anak Berkebutuhan Khusus Pada Pendidikan Inklusi, Jurnal Indigenous Vol. 1 No. 2 2016.
Mudjito, 2012. dkk. Pendidikan Inklusif. Jakarta: Baduose Media.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 157 Tahun 2014 Tentang Kurikulum Pendidikan Khusus.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa.
Sagala, Syaiful, 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran, cet. V. Bandung: Alfabeta.
Santoso, Budi & Satmoko. 2010. Sekolah Alternatif, Kenapa Tidak, Jakarta: Diva Press.
Published
2020-06-03
Section
Articles