HISAB BUANG LIMA SEBAGAI METODE PENENTUAN AWAL BULAN RAMADHAN DAN SYAWAL DI DESA TANJUNG MAS ACEH
Abstract
Penentuan awal bulan Ramadhan atau penentuan 1 Syawal kerap kali terjadi perbedaan, yang mengakibatkan tidak serentaknya puasa Ramadhan dan hari raya idul fitri termasuk di sebuah daerah wilayah Aceh Singkil tepatnya di desa Tanjung Mas, disana sering kali lebih dahulu melaksnakan puasa Ramadhan dibandingkan dengan desa lainnya. Tujuan dalam pembahasan ini untuk menjelaskan bagaimaana penetapan awal bulan Ramadhan dan penentuan hari raya idul fitri di desa Tanjung Mas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologis, data diambil dari hasil wawancara yang mendalam. Hasil penelitian bahwa masyarakat desa Tanjung Mas Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil dalam menentukan awal bulan Ramadhan dengan menggunakan metode hisab buang lima, metode ini merupakan sebuah metode dari nenek moyang mereka, termasuk Syekh Abdur Rauf dan Abu Pinto.begitu juga penentuan dengan 1 Syawal, mereka hanya menghitung 30 hari kedepannya, itulah 1 Syawal. Konsep hisab buang lima menganggap bahwa bulan Ramdhan berjumlah 30 hari dan tidak boleh kurang. Metode yang digunakan masyarakat Tanjung Mas berbeda dengan penentuan pemerintah. Penentuan buang lima-lima lebih cepat puasa satu hari dibanding dengan pemerintah.
References
Arifin, O. J. (2014). Fiqih Hisab Rukyah Di Indonesia ( Telaah Sistem Penetapan Awal Bulan Qamariyyah ). Yudisia, Vol5,No2(Disember), 402–422.
Ashhofa, B. (2007). Metode Penelitian Hukum. Rineka Cipta.
Bukhari, A.A.M. (1994). Shahīh Bukhori, Juz III, Beirut: Dar al- Fikr.
Bashori, M.H. (2015). Pengantar Ilmu Falak, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Efendi, Z. (2018). Penetapan Awal Ramadhan, Awal Syawal, Dan 10 Zulhijjah. Al Hurriyah: Jurnal Hukum Islam, ٣٨١. http://ejournal.iainbukittinggi.ac.id/index.php/alhurriyah/article/view/585
Faisal Yahya Yacob, F. A. S. (2016). Metode Penentuan Awal Ramadhan dan Hari Raya Menurut Ulama Dayah Aceh. Jurnal Ilmiah ISLAM FUTURA, 16(1), 9–31.
Fauzan. (2011). Penetapan Awal Bulan Hijriyah. Al-Hurriyah, 12(2), 71–95.
Giantara, F. (2019). Statistik Pendidikan dengan SPSS 21. LPPM STAI Diniyah Pekanbaru.
Hajar. (2015). Analisia Hadis Penetapan Awal Bulan Kamariah ( Ramadan dan Syawal ). Asy-Syir’ah, 49(1), 211–229.
Hasan, M. I. (2002). Pokok-Pokok Materi Metode Penelitian dan Aplikasinya. Galia Indonesia.
Hidayat, E. (2019). Sejarah perkembangan hisab dan rukyat. Elfalaky: Jurnal Ilmu Falak, 3(1).
Izzuddin, A. (2007). Fiqih Hisab Rukyah. Penerbit Erlangga.
Khairuddin, K. (2020). KHAZANAH ADAT DAN BUDAYA SINGKIL: Mengungkap Keagungan Tradisi Dan Memelihara Kebudayaan. Yogyakarta: Zahir Publishing.
Marpaung, W. (2015). Pengantar Ilmu Falak. Prenada Media.
Mustaqim, R. A. (2021). Ilmu Falak. Syiah Kuala University Press.
Muslifah, S. (2020). Upaya Menyikapi Perbedaan Penentuan Awal Bulan Qamariyah di Indonesia. Azimuth, 1(1), 74–100. http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/azimuth/article/view/788
Nasution, S. (2010). Metode Research (Penelitian Ilmiah). Bumi Aksara.
Salnuddin, S., Nurjaya, I. W., Jaya, I., & Natih, N. M. . (2017). Ethnooceanography Dan Titik Temu Aspek Syar’I Dalam Penentuan Awal Bulan Ramadhan Dan Syawal Oleh Joguru Kesultanan Tidore. In Al-Ahkam (Vol. 27, Issue 1, p. 111). https://doi.org/10.21580/ahkam.2017.27.1.1073
Semiawan, C. R. (2010). Metode penelitian kualitatif. Grasindo.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. CV. Alfabeta.
Sulastri, K. (2011). Studi analisis hisab awal bulan Kamariah dalam kitab Al-Irsyaad Al-Muriid (Doctoral dissertation, IAIN Walisongo).
Warson, A. (1997). Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Kamus al-Munawwir, 1591.
Zakariya, I., & ibn Faris, A. A. H. A. (1979). Mu’jam Maqayis al-Lughah. Beirut. Dar al-Fikr.
Zulhadi, H. (2019). Menelaah Perkembangan Kajian Hisab Rukyah di Indonesia. ELFALAKY, 3(2).